Pelemahan rupiah dinilai lebih banyak dipengaruhi sentimen global daripada perubahan mendasar pada ekonomi domestik.
Pemerintah menilai tekanan terhadap rupiah masih berkaitan dengan arah suku bunga global, dolar Amerika Serikat, dan arus modal. Meski demikian, pelemahan kurs tetap harus diantisipasi karena dapat menaikkan biaya impor bahan baku dan energi. Stabilitas inflasi serta koordinasi fiskal-moneter menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar.
Perkembangan ini menjadi perhatian karena kondisi ekonomi saat ini sangat dipengaruhi hubungan antara konsumsi, perdagangan, nilai tukar, harga energi, dan kebijakan suku bunga global.
Bagi pelaku usaha, sinyal kebijakan dan stabilitas pasar menjadi faktor penting dalam mengambil keputusan investasi. Sementara bagi masyarakat, dampak paling nyata terlihat pada harga kebutuhan, kesempatan kerja, dan daya beli.
Pengamat menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara dukungan pertumbuhan dan pengendalian risiko. Kebijakan yang terlalu lambat dapat membuat tekanan melebar, sedangkan kebijakan yang tepat waktu dapat menjaga kepercayaan pasar.
Sumber: BorneoFlash.com.
