Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Heru Pahlevi, menerima kunjungan Deputy Director of AI Products AI Singapore, Dr. William Tjhi, Selasa, 27 Oktober 2026. Pertemuan berlangsung setelah delegasi AI Singapore berdiskusi dengan tim Data Science and Artificial Intelligence Research Center (DSAI-RC) USK.
Prof. Heru menyambut kunjungan tersebut dan berharap kerja sama dengan AI Singapore terus berkembang hingga menghasilkan inovasi kecerdasan artifisial yang dapat diterapkan pada berbagai bidang.
AcehX diperkenalkan kepada AI Singapore
Diskusi di DSAI-RC dimulai pukul 14.00 WIB di Gedung D lantai dua FMIPA USK. Pertemuan melibatkan tim DSAI-RC, Balai Bahasa Provinsi Aceh, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), serta mahasiswa Program Magister Kecerdasan Artifisial USK.
Kepala DSAI-RC, Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si., M.Tech., membuka pertemuan dan memperkenalkan tim. Khairil Ilmi kemudian memaparkan AcehX, yaitu kumpulan teks, dataset, dan model bahasa untuk pemrosesan bahasa alami dalam bahasa Aceh.
Bahasa Aceh digunakan oleh jutaan penutur, tetapi masih tergolong bahasa dengan sumber daya digital terbatas. AcehX dikembangkan untuk memperkuat ketersediaan data dan teknologi bahasa Aceh dalam ekosistem kecerdasan artifisial.
Korpus 63.367 kalimat bahasa Aceh
AcehX berawal dari korpus berisi 63.367 kalimat bahasa Aceh. Data tersebut digunakan untuk mengembangkan AcehXBERT, model IndoBERT yang kosakatanya diperluas dengan kata-kata bahasa Aceh, kemudian dilatih kembali menggunakan korpus AcehX.
Riset tersebut dipublikasikan pada O-COCOSDA 2025 melalui karya berjudul “Development of AcehX for Sentiment Analysis Using a BERT-Based Model”. Pada 2026, tim juga menambahkan dataset baru untuk koreksi ejaan.
Teks dalam AcehX berasal dari enam jenis sumber yang mewakili bahasa Aceh dalam bentuk tulis dan lisan, yaitu karya sastra, cerita rakyat, tradisi lisan, manuskrip hukum adat, Wikipedia, serta komentar YouTube.
Dataset berlabelnya mencakup 20.000 data pelatihan, 5.000 data validasi, dan 5.000 data pengujian. Dataset itu mendukung analisis sentimen, koreksi ejaan, normalisasi teks manuskrip lama, serta penerjemahan bahasa Aceh–Indonesia.
Teknologi bahasa yang sedang dikembangkan
Pengembangan analisis sentimen dan koreksi ejaan telah diselesaikan. Sejumlah pekerjaan lain masih berlangsung, antara lain digitalisasi manuskrip hikayat, sistem penerjemahan mesin Aceh–Indonesia, aplikasi pemeriksaan teks, serta pengenalan ucapan dalam bahasa Aceh.
Tim turut mendemonstrasikan perangkat koreksi ejaan yang dapat memberi label jenis kesalahan pada setiap kata dan menyediakan terjemahan bahasa Indonesia. Sistem pengenalan suara untuk mengubah rekaman bahasa Aceh dan Gayo menjadi teks juga diperlihatkan.

Dalam diskusi, Dr. William menanyakan proses pengumpulan data AcehX dan memberi perhatian pada aplikasi pemeriksaan teks. Selain memperbaiki ejaan dan menampilkan arti kata, aplikasi tersebut dirancang untuk mengenali empat kelompok utama aksen bahasa Aceh, yakni Aceh Rayeuk, Aceh bagian timur, Pidie, serta Aceh wilayah barat–selatan.
Sistem itu juga ditargetkan mampu menelusuri kapan kata dan kalimat pertama kali digunakan, mendokumentasikan perubahan bahasa, serta memperkirakan asal sebuah teks.
SEA-LION dan Project ATLAS
Penggagas AcehX sekaligus guru besar USK dan Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), Prof. Dr. Ir. Hammam Riza, M.Sc., IPU, menegaskan bahwa kerja sama pengembangan AcehX akan dilanjutkan. Ia juga menyoroti pentingnya mengumpulkan lebih banyak data dari bahasa-bahasa yang belum terjangkau.
Dr. William memperkenalkan SEA-LION, model bahasa besar yang dikembangkan AI Singapore untuk bahasa-bahasa Asia Tenggara. Ia juga memaparkan Project ATLAS, platform sumber terbuka berisi dataset teks, suara, dan gambar yang dapat digunakan serta dikembangkan secara kolaboratif.
Peluang kolaborasi turut dibahas pada bidang lain. Prof. Dr. Essy Harnelly, S.Si., M.Si., mengeksplorasi pemanfaatan AI dalam genomika, sedangkan Prof. Dr. Ir. Roslidar, S.T., M.Sc., IPM, ASEAN Eng., membahas penerapan AI untuk layanan kesehatan. Dari Balai Bahasa Provinsi Aceh, Cut Ida Agustina mendiskusikan pemetaan bahasa daerah di Aceh dan wilayah lain di Indonesia.
Integrasi dataset AcehX ke Project ATLAS
Pertemuan ditutup dengan penandatanganan Implementation Arrangement bertajuk “Integrating the Aceh-X Dataset into Project ATLAS AI Singapore.”
Aceh memiliki beragam bahasa daerah, antara lain bahasa Aceh, Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Melayu Tamiang, Kluet, dan Simeulue. Data bahasa Aceh dan Gayo telah tersedia dan akan terus ditingkatkan melalui kolaborasi tersebut, sementara DSAI-RC mulai membangun data untuk bahasa-bahasa daerah Aceh lainnya.
Artikel ini diterjemahkan dan disusun dalam bahasa Indonesia berdasarkan publikasi DSAI-RC USK.
Referensi: DSAI-RC USK – From AcehX to Project ATLAS: AI Singapore Visits DSAI-RC USK









